Seri Ekonomi Pembangkitan
oleh: Kelompok 2
Bagus
W. Wahyuntoro, Samuel
LB. Parura, Felix
Rudianto, Nino
Teguh Pamuji
Prinsip
“provide energy at the lowest possible cost”
digunakan pada pemilihan alternatif pembangkit.
Setelah kandidat pembangkit ditentukan
dengan total system cost analysis,
bagaimana kita membandingkan pembangkit satu dengan alternatif yang lain?
Bagaimana kita mengambil keputusan dengan menggunakan perbandingan yang
objektif?
Direct
unit cost comparison
merupakan perbandingan yang hanya menggunakan biaya pembangkit alternatif dalam
perhitungannya. Ada dua metoda direct
unit comparison sebagai berikut.
- Cost of
Electricity (COE)
- Lifecycle
Cost (LCC)
Cost of Electricity (COE)
Merupakan biaya yang
dikeluarkan tiap kWh atau tiap MWh oleh pembangkit tenaga listrik ($/MWh). COE
sering juga disebut dengan terminologi “busbar cost”.
COE digunakan pada pembangkit satu dengan yang lain, dengan membandingkan
$/MWh atau $/kWh masing-masing pembangkit.
Pembangkit yang memiliki COE
terendah yang akan dipilih.
Seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya, ada dua komponen biaya pembangkitan:
- Biaya tetap (dalam $/year atau Rp/tahun),
harus dikeluarkan baik pembangkit beroperasi atau tidak, terdiri atas biaya investasi / kapital dan biaya tetap O&M
- Biaya variabel (dalam $/MWh atau Rp/kWh),
sebanding dengan fungsi energi yang dibangkitkan, terdiri atas biaya bahan bakar dan biaya variabel O&M
Cost
of Electricity (COE) suatu pembangkit dihitung dengan persamaan berikut:
COE =
103 x [ D x fcr + Of ] / (8760 x Cf) + (Ov
+ h x F x 10-3)
•
COE
= Cost of Electricity ($/MWh)
•
D
= biaya kapital pembangkit ($/kW)
•
fcr
= levelized fixed-charge rate (p.u.)
•
Of
= Biaya tetap O&M ($/kW-yr)
•
Ov
= Biaya variabel O&M ($/MWh)
•
Cf
= Capacity factor (p.u.)
•
h
= heat rate (kJ/kWh atau Btu/kWh)
•
F
= biaya bahan bakar ($/GJ atau $/MBtu)
Esensi
COE adalah satuannya, $/MWh. COE merupakan metode yang paling sering digunakan karena
simple namun sering menimbulkan misleading, sebagai berikut:
- Meskipun biaya investasi, D, dari tiap alternatif diperoleh secara konsisten, namun rating pembangkit yang sebenarnya bisa saja berbeda.
Sehingga pembangkit tersebut belum tentu dapat memberikan energi yang sama kepada sistem dan tidak dapat berkontribusi pada kehandalan sistem atau kemampuan memikul beban.
- Meski rating-nya sama pun, pembangkit tersebut tidak dapat berkontribusi pada kehandalan sistem, apabila FOR-nya berbeda.
- Capacity factor, Cf, harus diasumsikan pada pembangkit tersebut sehingga energi tahunan dapat dibandingkan satu dengan yang lain.
Lifecycle Cost (LCC)
Merupakan biaya yang
dikeluarkan tiap tahun oleh pembangkit tenaga listrik ($/year).
Evaluasi LCC mempertimbangkan
umur pembangkit (total unit life).
Komponen
LCC adalah sebagai berikut:
–
Biaya
Kapasitas Pembangkit (Capacity Cost)
–
Biaya
Energi Pembangkit (Energy Cost)
Untuk menghitung LCC,
mula-mula, salah satu alternatif dipilih menjadi base unit.
PERHITUNGAN CAPACITY COST
Kapasitas
efektif pembangkit (base = L0 dan alternate = L) dihitung terlebih
dahulu.
Biaya kapasitas base unit adalah sebagai berikut.
G0 = C0 x [ D0 x fcr + Of0 ]
•
G0
= Biaya kapasitas base unit ($/yr)
•
C0
= kapasitas pembangkit base unit (kW)
•
D0
= biaya capital pembangkit base unit ($/kW)
•
fcr
= levelized fixed-charge rate (p.u.)
•
Of0
= biaya tetap O&M ($/kW-yr)
Biaya
kapasitas alternate unit adalah sebagai berikut.
G = C x [ D x fcr + Of ] + ( L0 - L ) Sc
•
G
= Biaya kapasitas alternate unit ($/yr)
•
C
= kapasitas pembangkit alternate unit (kW)
•
D
= biaya capital pembangkit alternate unit ($/kW)
•
L0
, L = kapasitas efektif pembangkit, base unit dan alternate unit (kW)
•
Sc
= Biaya kapasitas system replacement ($/kWh-yr)
Komponen
“( L0 - L ) Se” meng-kompensasi perbedaan baik kapasitas
dan FOR dari base unit dan alternate unit.
PERHITUNGAN ENERGY COST
Energi
yang diproduksi base unit
W0 = C0 x 8760 x Cf
- W0 = Energi base unit (kWh/yr)
- Cf = capacity factor (p.u)
Biaya
energi base unit (awal)
E0 = W0 x (h0 x F0 /106
+ Ov0 /103)
- E0 = Biaya energi base unit ($/yr)
- h0 = Heat rate base unit (kJ/kWh
atau Btu/kWh)
- F0 = Biaya bahan bakar base unit
($/GJ atau ($/Mbtu)
- Ov0 = Biaya variabel O&M base
unit ($/MWh)
Energi
yang diproduksi alternate units
W = C x 8760 x Cf x (1-Rf) / (1-Rf0)
- W = Energi alternate units (kWh/yr)
- Rf = FOR alternate unit (p.u)
- Rf0 = FOR base unit (p.u)
Biaya
energi alternate units (awal) adalah sebagai berikut.
E = W x (h x F /106 + Ov /103)
+ (W0 – W) x Se /103
- E = Biaya energi alternate unit ($/yr)
- h = Heat rate (kJ/kWh atau Btu/kWh)
- F = Biaya bahan bakar alternate unit ($/GJ
atau ($/Mbtu)
- Ov = Biaya variabel O&M
($/MWh)
- Se = Biaya energi system
replacement ($/MWh)
Komponen
“(W0 – W) x Se” meng-kompensasi biaya energi alternate
unit terhadap biaya energi base unit.
Pada
biaya energi, terdapat komponen capacity
factor yang kenyataannya berubah terhadap waktu. Untuk itu harus dilakukan
level terhadap capacity factor.
 |
| Gambar 1. Capacity Factor Trend |
Demikian
juga komponen fuel cost pada biaya
energi yang kenyataannya juga berubah terhadap waktu dan harus dilakukan
level terhadap komponen fuel cost ini.
 |
| Gambar 2. Fuel Cost Trend |
Demikian juga terhadap biaya O&M dapat dilakukan
level yang sama.
Setelah dilakukan level terhadap capacity factor dan
fuel cost, maka dilakukan level terhadap produk keduanya.
Kemudian hasilnya
dimasukkan ke dalam persamaan biaya energi awal dan diperoleh biaya energi
final.
Biaya
energi (final) untuk base unit adalah sebagai berikut.
Biaya
energi (final) untuk alternate unit adalah sebagai berikut.
Komponen Cf x F dan yang lainnya merepresentasikan
ekuivalen dari komponen-komponen tersebut yang telah disetarakan (level).
SCREENING CURVES
Merupakan penggambaran
(plot) dari annual cost pembangkit (dalam $/kW-year) terhadap capacity factor
(dalam p.u.).
Screening curves bukan metode evaluasi yang menggantikan
kalkulasi LCC.
Screening curves paling
sering berguna untuk perbandingan kasar secara keseluruhan (gross comparison)
pembangkit dengan mode aplikasi yang berbeda atau untuk mengilustrasikan dengan
mode seperti apa, tipe suatu pembangkit atau pembangkit baru dapat digunakan.
Screening curves
digambarkan untuk tiap pembangkit seperti Gambar 3 di bawah.
Pembangkit “X”
merupakan suatu pembangkit dengan biaya investasi yang tinggi namun biaya bahan
bakar yang lebih rendah dari pembangkit nuklir.
 |
| Gambar 3. Screening Curves (tanpa eskalasi) |
Bagaimana
menginterpretasikan kurva tersebut?
Untuk beban dasar (Cf
> 0.5), pembangkit nuklir relatif terbaik.
Untuk beban puncak (Cf
< 0.35), pembangkit gas relatif memiliki biaya terendah.
Untuk faktor kapasitas
sekitar 0.4, terlihat combined-cycle dapat dijalankan terus, bersaing dengan
penggunaan pembangkit batubara.
Pembangkit “X” harus
keluar (screened out) dari pertarungan karena tidak memiliki biaya terendah
pada faktor kapasitas berapapun
Apabila digunakan
asumsi eskalasi 8% tiap tahun untuk biaya bahan bakar dan O&M akan
diperoleh . screening curves seperti Gambar 4 di bawah.
 |
| Gambar 4. Screening Curves (dengan eskalasi) |
Pada Gambar 4 tersebut
terlihat bahwa terjadi pergeseran proporsi biaya bahan bakar dan biaya investasi.
Pembangkit “X” yang dapat digunakan pada area faktor kapasitas tinggi, sehingga
pembangkit nuklir hanya dapat digunakan untuk aplikasi midrange.
Pembangkit
combined-cycle masih dapat digunakan namun pada area yang kecil.
Pembangkit batubara
tidak dapat dijalankan (screened out) karena tidak memiliki biaya terendah pada
faktor kapasitas berapapun.
Pembangkit turbin gas
tetap dapat digunakan untuk beban puncak namun dengan area faktor kapasitas
mengecil.
Screening curve tidak
dapat digunakan sebagai dasar pemilihan pembangkit selanjutnya yang ditambahkan
pada jaringan.
Penambahan pembangkit baru harus menggunakan analisis keekonomian
(total system cost analysis).
Summary
Direct unit comparison
berguna untuk pemilihan pembangkit yang mirip dan tipe sama setelah unit size
dan heat rate ditentukan dengan total system cost analysis.
Direct unit comparison
juga berguna untuk menggambarkan mode aplikasi suatu pembangkit dimana secara
ekonomi menjadi kompetitif. Penggambaran tersebut menggunakan screening curve, yang relatif sederhana
dan cukup akurat.
Metode Cost of
Electricity (COE) atau dengan membandingkan $/MWh masing-masing pembangkit,
meskipun paling sering digunakan, namun ambigu dan rentan menjadi gambaran yang
salah.
Metode Lifecycle Cost
(LCC) lebih memakan waktu, namun memberikan lebih banyak pengertian, lebih
lengkap, lebih akurat dan lebih disukai.
Dengan metode manapun,
prinsip “at the lowest possible cost” menjadi
dasar dalam pemilihan pembangkit.
STUDI KASUS
Coba
gunakan COE dan LCC untuk pemilihan pembangkit di bawah ini.
|
Symbol
|
Pembangkit #1
(base)
|
Pembangkit #2 (alternate)
|
Capacity
|
C
|
500 MW
|
490 MW
|
Plant Cost
|
D
|
950 $/kW
|
930 $/kW
|
Heat Rate
|
H
|
9,500 kJ/kWh
(9,005 Btu/kWh)
|
10,000 kJ/kWh
(9,479 Btu/kWh)
|
Fuel Price
|
F
|
1.65 $/GJ
(1.74 $/MBtu)
|
1.65 $/GJ
(1.74 $/MBtu)
|
O&M Fixed Cost
|
Of
|
4.0 $/kW-year
|
4.0 $/kW-year
|
O&M Variable Cost
|
Ov
|
2.4 $/MWh
|
2.5 $/MWh
|
Forced-Outage Rate (p.u.)
|
Rf
|
0.1
|
0.12
|
Discount Rate (p.u.)
|
R
|
0.12
|
Inflation Rate (p.u.)
|
U
|
0.08
|
Fixed-Charge Rate (p.u.)
|
fcr
|
0.18
|
Useful Life
|
n
|
30 years
|
LOLP slope
|
M
|
600 MW
|
System replacement capacity cost
|
Sc
|
50 $/kW-year
|
System replacement energy cost
|
Se
|
22 $/MWh
|
Referensi:
- Energy
Information Administration (EIA), (2013), Updated Capital Cost Estimates
for Utility Scale Electricity Generating Plants, Washington, DC 20585
- Marsh,
W.D., Electric Utility Power Generation Economics, Clarendon Press –
Oxford, University Press, NY
- K.E.
Holbert, (2011), Electric Energy Economics
- Shaalan,
H.E., Generation of Electric Power
- http://dddusmma.wordpress.com/2011/11/01/true-cost-of-electricity/
Bahan Diskusi
- Dari studi kasus di atas, evaluasi dan lakukan perhitungan dengan menggunakan COE dan LCC !
- Seandainya pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dimasukkan ke dalam screening curve, kira-kira bagaimana penggambarannya? Pada range capacity factor seperti apa pembangkit tersebut beroperasi?
- Bagaimana fuel cost trend energi fosil (batubara, minyak dan gas) di Indonesia? Dari sepuluh tahun terakhir, berapa inflation rate-nya? Sebutkan referensi pendukung.
- Dengan tetap menggunakan prinsip “at the lowest possible cost”, pembangkit batubara (PLTU) memiliki biaya pembangkitan yang cukup rendah untuk beban dasar, menurut IEA dan menurut statistik PLN. Mengapa PLTU masih jarang digunakan untuk pembangkit di luar Jawa?